INI ADALAH CERITA

HITAM TAK SELAMANYA GELAP

Hai perkenalkan, Namaku Lisa, biasa dipanggil Ica. Kenapa Ica?, akupun tak tahu kenapa. Teman SD ku Mimil yang mencetuskan nama itu. Tidak perlu bertanya dari mana Mimil mendapat ide nama Ica, dan motivasinya apa. Tidak penting. Yang penting sekarang adalah, kali ini, kali pertamaku bercerita, kali pertamaku harus menulis, dan kali pertamaku untuk menceritakan kepada kalian mengapa aku harus menulis ini.

Sebelumnya, aku ingin bertanya terlebih dahulu. Siapa diantara kalian yang suka memusingkan apa yang seharusnya tidak dipusingkan?. Aku yakin seribu persen pasti kita semua pernah mengalami itu. (Kalau aku, jangankan hanya pernah, hampir ada kali ya setiap jam aku memusingkan segala sesuatu yang seharusnya tidak perlu aku pusingkan. Untuk contoh, sebut saja baru saja aku selesai dengan kepusingan mau jajan apa di kampus, tiba-tiba aku udah memusingkan lagi bagaimana kalau teman-teman kelas nanti berebut minta jajananku.) begitu contoh sederhananya. Aneh, bukan?. Tapi, itulah aku. Segala sesuatu aku akan memikirkan bagaimana efek kedepannya, baik itu baik atupun buruk. Jika baik, itu sedikit melegakan untukku. Mengapa hanya sedikit?. Karna itu hanyalah baru sebatas dugaan sementara. Kan, kita tidak tahu bagaimana realita yang sebenarnya. Jadi, meski perkiraanku sesuatu itu bedampak baik, untuk berjaga-jaga, aku juga harus memikirkan hal-hal buruknya. Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, tetapi lebih kepada berjaga-jaga. Ingat nasihat “sedia payung sebelum hujan?”, seperti itulah pemikiranku tentang segala sesuatu yang aku jalani. Harus serba sedia.

Ada yang setipe denganku? seperti itu? selalu memusingkan sesuatu yang seharusnya tidak dipusingkan? ada?. Ku yakin pasti ada. Tenang saja, kawan. Tidak usah malu. Justru terkadang aku merasa bangga dengan aku yang selalu memusingkan banyak hal. Karena dengan begitu, hidup kita akan serba hati-hati, bukan?.

Aku tidak tahu apakah ini adalah takdir, kebetulan, sengaja, atau entahlah apa saja nama sebutan itu, yang jelas, aku tidak tahu aku harus berterima kasih atau tidak kepada Ninda, (teman kampus beda jurusan).

Ninda ini memiliki julukan ratu aktivis kampus. Bagaimana tidak? segala bentuk, jenis, dan rupa kegiatan kampus, pasti nama dia ada di dalamnya. Entah itu sebagai ketua pelaksana, seksi-seksian, atau bahkan hanya sekedar nongkrong santai memberikan nasihat- nasihat basi. Pokoknya, dimana ada kegiatan kampus, disitu ada Ninda.

Ninda juga mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan. Jadi, tak heran jika banyak mahasiswa yang saling berebut untuk mencuri perhatian Ninda. Baik untuk sekedar teman say hello, ataupun teman baik.

Aku ingat sekali awal dimana pertemuan menarik itu tiba. Pertemuan pertama yang sangat bersejarah bagiku.

Waktu itu, sedang sore, dan hujan gerimis. Entah kenapa, tumben sekali aku tidak ingin pulang ke kost an ku yang sangat aku cintai dan selalu aku rindukan. Entah kenapa sore itu aku ingin menikmati keramaian kampus di sore hari. Sore itu aku sedang duduk duduk di teras pendopo kampus, dan tentunya sendirian. Sebagai informasi singkat, pendopo di kampusku ini bisa dibilang unik. Mengapa demikian? karena mahasiswa di kampus ku menyebut pendopo adalah rumah mahasiswa. Disebut rumah mahasiswa, karena di pendopo adalah pusat segala wifi kampus. Jadi tak heran jika semakin sore, bukannya semakin sepi, tetapi semakin ramai. Yang sepi Cuma satu. Pikiranku. Pikiranku selalu sepi karena sibuk dengan berbagai kecemasan dan kerisauan di setiap kegiatan yang aku lakukan.

Jadi, sore itu, Ninda tiba-tiba saja sudah duduk disampingku, dan dia bertanya apakah ia boleh mengobrol denganku atau tidak. Aku hanya membalas dengan senyuman.  Dan obrolan pertama kami di sore itu hanya Ninda yang bertanya satu hal padaku.

Ca, mulai sekarang kita sahabat ya.. Jadi, mulai besok atau sekarang juga, kalau kamu ada masalah dan ada hal yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa ceritakan semuanya kepadaku. Aku akan menjadi pendengar dan penasihat yang baik untukmu ca.

Kalau kalian jadi aku, gimana? kaget ngga? aneh ngga?

Itulah perasaanku sore itu. Ya. Aku bingung. Sangat Bingung.

Dan anehnya lagi, sore itu, aku mengiyakan tawaran Ninda soal persahabatan.

Karenea, jujur, aku ingin sekali merasakan bagaimana mempunyai sahabat.

Apa? Mimil?. Oh iya, dia bukan sahabatku. Dia adalah teman SD ku yang memberi nama panggilanku ini. Dan sekarang dia mungkin sudah lupa denganku. Tidak apa, aku sudah biasa.

Apakah aku mencurigai niat Ninda yang mendadak memintaku untuk menjadi sahabatnya secara tiba-tiba?. Maukah kalian tahu jawabannya?.

Jawabannya adalah, TIDAK. TIDAK SAMA SEKALI. Aku sedikit pun tidak berpikir bahwa Ninda bersahabat denganku karena adalah alasan khusus atau misi tertentu. Aku percaya, Ninda tidak akan melakukan hal se bodoh itu. Anehnya, memang tidak tahu kenapa aku sangat mempercayai Ninda.

Dan malamnya, kami mulai berbincang melalui chating. Awalnya hanya sapaan biasa, lalu mulai beralih ke tugas kuliah, membicarakan film, dan selesai.

Malam itu, aku merasa hatiku sangat tentram dan damai.

Aku senang. Akhirnya malam itu, aku merasakan bagaimana rasanya mempunyai sahabat. Aku tidak tahu ternyata semenyenangkan ini. Sebelum mematikan smartphone, aku berjanji dalam hati, akan perlahan menceritakan apa yang aku rasakan setiap hari. Apa yang setiap hari membuatku pusing seribu bayang. Karena sekarang, aku tidak lagi sendiri. Aku punya sahabat baikku, Ninda.

Dan menurutku, inilah yang dinamakan hitam tak selamanya gelap.

Dulu, keseharian ku hanya berkutik kepada kecemasan, rasa was-was dan serba pusing.

Seluruh perasaan, dan pikiranku didominasi warna hitam. Bahkan, aku menutup rapat-rapat warna lain masuk untuk mewarnai hidupku.

Karna warna lain tidak kubiarkan masuk, akhirnya warna hitampun semakin lama semakin gelap, dan semakin pekat.

Tetapi, pada akhirnya, secara tak disangka, aku membuka lebar-lebar kesempatan warna lain itu masuk ke dalam diriku.

Dan perlahan, aku mulai sadar, jika warna hitam dipadukan dengan warna lain, akan semakin bagus. Bahkan, warna lainlah yang kadang mendominasi. Warna hitam itu jadi tidak gelap, bahkan terlihat menarik.

Hitam tidak selalu gelap, bukan?

Tidak apa jika terkedang di dalam diri ini, warna hitam selalu menjadi dominan. Tetapi, kita harus ingat dengan satu hal. Hitam tak selamanya gelap.

Beranilah, jika perlu, paksakanlah memadukannya dengan warna lain. Aku yakin, kalian tidak akan menyesalinya. Kalian akan tumbuh menjadi seorang yang tangguh, dan istimewa.

 

-The End-

Ini Cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *